Ketika seorang kawan dalam pertemuan suatu organisasi politik tingkat daerah ditanya. Tentang bagaimana peluang dan tantangan untuk membangkitkan masyarakat banjar. Dengan sangat lugu dan polos, jawaban seperti ini keluar. “masarakat kita itu kada kawa dibawa bapikir, kada tabiasa. Makanya, gerakan kita ngalih banar tumbuh dan melaju kaya di Jakarta. Bila kaina revolusi, kita di sini kana batunya. Karna masarakat kita kada siap.(masyarakat banjar itu tidak bisa diajak berfikir, karena tidak terbiasa. Karenanya, gerakan untuk berupaya mengubah masyarakat sangat sulit untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana di Jakarta. Bila nanti terjadi revolusi, maka kita akan kena batunya, oleh karena masyarakat kita tidak siap.)” Hadirin dalam ruangan itu ada yg hanya diam, ada pula yg mengangguk2kan kepala tanda setuju. Setuju kalau masyarakat banjar adalah tipe masyarakat yg cuman doyan diperintah dan memerintah. Gak doyan mikir.
Di beberapa tempat lain, lontaran bahwa masyarakat banjar itu tidak bisa diajak berfikir, apalagi berfikir serius, mendalam dan jernih tetap saja ada. Mungkin tidak hanya ada, tapi banyak. Hahaha… yah… mungkin saat ini kita mulai teracuni oleh gaya berfikir seperti tadi. Dan akhirnya menyerah kalah pada kondisi yg sebenarnya kita buat sendiri. Padahal kondisi yg terjadi dan berlaku saat ini bukanlah kondisi sebenarnya. Aku rasa, kita sudah membuat keprecayaan negatif terhadap diri kita sendiri agar kita tidak menjadi individu yg dipersalahkan ketika tidak bisa berbuat optimal untuk perubahan. Sebagaimana kita jujur dan setuju mengakui kalau kita bisu, saat diminta untuk berorasi. Sungguh ini SANGAT MEMALUKAN!!!
Terserah saja, yg membaca ini mau memasang pitam tertinggi kemudian mendatangi kami untuk memberikan bogem mentah ke muka2 kami. Silakan… jika kalian telah merasa benar dengan pendapat kalian. Aku hanya menggunakan kata2 ini untuk menyalurkan apa yg ada di otakku saat ini dalam bentuk tulisan. Kau mau apa??? Bukankah kau juga termasuk orang yg memanifestasikan apa yg kau pikirkan di dalam otak untuk segera menonjokku? Aha…. untuk menonjok saja kalian mikir kan? Kenapa coba, (jika kalian juga termasuk orang banjar) kita dikatakan sebagai tipe manusia yang tidak bisa diajak berfikir?
Setiap kita telah dikaruniakan oleh Sang Penguasa Alam berupa otak dan panca indra yang bisa dioptimalkan untuk menghayati, merasa dan memikirkan. Karena otak dan panca indra adalah dua bagian dari empat komponen pemenuh adanya aktifitas berfikir. Secara teoritik, dalam berbagai buku yg pernah aku baca, proses berfikir itu dimulai dari pencernaan terhadap fakta oleh panca indra. Kemudian panca indra mentransformasikannya melalui syaraf2 kepada otak. Di otak, informasi2 yg telah kita kumpulkan sejak lahir hingga bisa saat ini duduk atau jongkok atau berdiri saat membaca tulisan ini, akan menyesuaikan dan mengidentifikasi tentang fakta yg dilihat. Masih dalam teorinya, berfikir itu banyak jenisnya. Ada berfikir dangkal, ada mendalam dan ada yang jernih dan cemerlang. Tergantung pada tingkat keseriusan berfikir.
Sederhananya seperti ini. Pernah makan ketupat kandangan? Atau makan soto banjar? Pernah dong…. hayoooo…. yg pernah angkat tangan dan yg gak pernah angkat kaki… (hehehhe…. just kiddin bro..). keduanya (yang pernah ataupun yg tidak pernah) sama2 berfikir. Keduanya hanya berbeda dari sisi pengalaman memakan dan tidak memakan. Karena tatkala disebut ketupat kandangan orang yg tidak pernah makanpun bisa memikirkan dan mencitrakan tentang masakan bernama ketupat kandangan. Minimal dalam gambaran yg tidak sempurna. Tahu ketupat saja, tapi kekhasan kandangannya belum sempat tergambar. Ya… kalau saja setiap orang pernah ke Kandangan atau minimal ke Banjarmasin, mereka akan mendapatkan informasi perihal ketupat kandangan.
Menurutku, informasilah yg membuat seseorang bisa berfikir serius sehingga informasi2 yg didapatkannya agar bisa berfikir menjadi banyak. Bisa diyakini, jika seorang telah mendapatkan banyak informasi, wahana berfikirnya akan semakin luas dan semakin kompleks. Misalnya, kita bisa bandingkan antara seorang anak yg tidak bersekolah yg tidak membaca dengan anak yg bersekolah yg membaca. Kedua2nya sama2 tidak membaca, tetapi cara berfikir anak yg sekolah dan yg tidak akan lebih kompleks. Setidaknya, kesederhanaanna dalam menguraikan dan menyelesaikan masalah akan sangat terlihat. Sehingga kesimpulannya, informasi itu memilik pernan yg sangat penting.
Mungkin kita semua patut merenung, saat ini kita tidak bisa mengajak mereka berfikir (mungkin yg dimaksud berfikir mendalam dan cemerlang), dikarenakan kita memberikan informasi yang tidak bisa mereka fahami. Karena bahasa yang kita gunakan adalah sama. Ketika kita duduk berdiskusi dengan rekan2 kita sesama pejuang revolusioner, di perkuliahan, di ranah2 akademik, di depan warung, di dalam masjid, di pasar, dan disegala tempat. Bahasa kita sama. Bahasa intelek (kalau tidak mau dikatakan sok intelek), bahasa langit yang mayoritas pendengarkita baru saja mengerti apa yang baru kita ucapkan. Kita tak bisa memungkiri, sebagaian besar masyarakat banjarmasin bukanlah orang2 yang menggunakan bahasa sederhana. Bukankah memahamkan orang dan mengajak orang berfikir senantiasa kita adalah memberikan substansi? Bukan keanehan dan kebaruan serta kesulitan bahasa.
Hehehe….
Aku ini ngoceh terus… tidak tahu orang sudah bosan dengan apa yg kusampaikan di lembaran2 kertas ini. Intinya begini, semua orang bisa berfikir. Dan ajakan berfikir itu bermacam2, tergantung objek. Jika orang bisa berfikir dengan umpatan bangsat, biadab, keparat dan lain sebagainya…. kenapa kita tidak lakukan itu terhadapnya? Hahaha… tapi ingat, tidak semua orang akan bisa diajak berfikir dengan cara yang sama. Oleh karenanya, bagi yg terbiasa berfikir dan menelurkan pemikirannya ke masyarakat dengan bahasa “tinggi”, silakan dengan menggunakan bahasa langitnya. Tapi, kami akan senantiasa mengajak orang untuk berfikir sebagaimana cara kami. Karena kami yakin, yang diperlukan adalah faham, sadar dan bergerak. Bukan tahu, hafal teori dan tidur.
Segera bergerak…. mulailah dengan berFIKIR.
Revolusi Sampai Mati
(contact: 05117230583—Djid)